Showing posts with label Cryptography. Show all posts
Showing posts with label Cryptography. Show all posts

Pepes Bakar

Posted by Didi Setyapramana On 6:02 PM 0 komentar


Bahan:
2 sdm minyak goreng
1 lbr daun jeruk
300 gr daging ikan kakap, potong-potongdaun pisang untuk membungkus
 
Bumbu Halus:
1 sdm gula Jawa
1 sdt asam Jawa
3 bh cabai besar
5 bh cabai kecil
1 bh tomat
2 siung bawang putih
1 bh kemiri
1 sdm gula putih
1 sdm garam dapur
 
Cara Membuat:

  1. Campurkan minyak goreng ke dalam bumbu halus hingga merata, campurkan daun jeruk dan daging ikan irisan hingga merata, bagi menjadi 3 bagian.
  2. Bungkus campuran ikan dengan bumbu ke dalam daun pisang, semat ujungnya dengan lidi.
  3. Kukus selama 30 menit sampai ikan matang, angkat lalu bakar pepes di atas bara api sampai harum.

Untuk 4 Porsi

Tiga kunci Hidup Bahagia

Posted by Didi Setyapramana On 7:41 AM 0 komentar

 hidup.jpg

Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak orang yang mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah Anda akan berbahagia jika mempunyai rumah yang indah, mobil mewah, penghasilan yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-anak yang tampan dan cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ”ya.” Tapi, percayalah itu tidak akan berlangsung lama.

Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu Anda berhasil memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan Anda membeli mobil mewah, handphone yang canggih, atau sekadar baju baru. Anda begitu ingin memilikinya.

Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa bahagia itu segera hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan, Anda mulai melirik orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus lagi daripada yang Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk memilikinya. Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan pernah bahagia.

Budha Gautama pernah mengatakan, ”Keinginan- keinginan yang ada pada manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan. ” Ia benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Anda tidak perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah sesuatu yang sudah Anda putuskan dari awal.
Coba katakan pada diri Anda sendiri, ”Saya sudah memilih untuk bahagia apapun yang akan terjadi.” Anda akan merasa bahagia walaupun tidak memiliki harta yang banyak, walaupun kondisi di luar tidak sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak akan mengganggu karena Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda disana.

Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri Anda sendiri. Inti kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara Anda berpikir dan Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman batin.
Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda tumbuhkan. Saya mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci kebahagiaan ini setelah merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang kita ucapkan tiap hari tapi sering tanpa makna yang mendalam. Saya kira ajaran seperti ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam ajaran agama yang lain.

Kunci pertama kebahagiaan adalah rela memaafkan. Coba renungkan kata subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaanny a. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan, alhamdulillah.

Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer. Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah.

Cerita itu sangat inspiratif karena dapat menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.

Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar-besarkan hal-hal kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang.

Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ”agak besar.” Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.

Modular Arithmetic Calculating with Residue Classes

Posted by Didi Setyapramana On 2:02 AM 0 komentar

we begin with a bit of algebra.
We have seen that in division with remainder of an integer a Z by a natural
number 0 < m N one has the unique representation

a = qm + r,      0 ≤ r < m.

Here r is called the remainder after division of a by m or the residue of a modulo
m, and it holds that m divides a − r without remainder, or in mathematical
notation,
m | (a − r).

This statement about divisibility was given a new notation by Gauss, in
analogy to the equal sign:1

a ≡ r mod m

say “a is congruent to r modulo m”).
Congruence modulo a natural number m is an equivalence relation on the
set of natural numbers. This means that the set R := { (a, b) | a ≡ b mod m }

of integer pairs satisfying m | (a − b) has the following properties, which result
immediately from division with remainder:

·         R is reflexive: For all integers a it holds that (a, a) is an element of R, that is,
we have a ≡ a mod m.

·         R is symmetric: If (a, b) is in R, then so is (b, a); that is, a ≡ b mod m
implies b ≡ a mod m.

·         R is transitive: If (a, b) and (b, c) are in R, then so is (a, c); that is,
a ≡ b mod m and b ≡ c mod m implies a ≡ c mod m.

The equivalence relation R partitions the set of integers into disjoint sets, called
equivalence classes: Given a remainder r and a natural number m > 0 the set

r := { a | a ≡ r mod m },

or, in other notation, r + mZ, is called the residue class of r modulo m. This class
contains all integers that upon division by m yield the remainder r .
Here is an example: Let m = 7, r = 5; then the set of integers that upon
division by 7 yield the remainder 5 is
5 = 5 + 7 · Z = { . . . , −9, −2, 5, 12, 19, 26, 33, . . . }.

Two residue classes modulo a fixed number m are either the same or disjoint.2
Therefore, a residue class can be uniquely identified by any of its elements. Thus
the elements of a residue class are called representatives, and any element can
serve as representative of the class. Equality of residue classes is thus equivalent to
the congruence of their representatives with respect to the given modulus. Since
upon division with remainder the remainder is always smaller than the divisor,
for any integer m there can exist only finitely many residue classes modulo m.
Now we come to the reason for this extensive discussion: Residue classes
are objects with which one can do arithmetic, and in fact, by employing their
representatives. Calculating with residue classes has great significance for algebra
and number theory and thus for coding theory and modern cryptography. In what
follows we shall attempt to clarify the algebraic aspects of modular arithmetic.
Let a, b, and m be integers, m > 0. For residue classes a and b modulo m
we define the relations “+” and “·”, which we call addition and multiplication
(of residue classes), since they are based on the like-named operations on the
integers:

a + b := a + b (the sum of classes is equal to the class of the sum);

a · b := a · b  ( product of classes is equal to the class of the produc)


CRYPTOGRAPHY

Posted by Didi Setyapramana On 7:12 AM 0 komentar

CRYPTOGRAPHY IS AN ANCIENT ART, well over two thousand years old. The need
to keep certain information secret has always existed, and attempts to preserve
secrets have therefore existed as well. But it is only in the last thirty years that
cryptography has developed into a science that has offered us needed security in
our daily lives. Whether we are talking about automated teller machines, cellular
telephones, Internet commerce, or computerized ignition locks on automobiles,
there is cryptography hidden within. And what is more, none of these applications
would work without cryptography!
The history of cryptography over the past thirty years is a unique success story.
The most important event was surely the discovery of public key cryptography in
the mid 1970s. It was truly a revolution: We know today that things are possible
that previously we hadn’t even dared to think about. Diffie and Hellman were
the first to formulate publicly the vision that secure communication must be
able to take place spontaneously. Earlier, it was the case that sender and receiver
had first to engage in secret communication to establish a common key. Diffie
and Hellman asked, with the naivety of youth, whether one could communicate
secretly without sharing a common secret. Their idea was that one could encrypt
information without a secret key, that is, one that no one else could know. This
idea signaled the birth of public key cryptography. That this vision was more
than just wild surmise was shown a few years later with the advent of the RSA
algorithm.
Modern cryptography has been made possible through the extraordinarily
fruitful collaboration between mathematics and computer science. Mathematics
provided the basis for the creation and analysis of algorithms. Without
mathematics, and number theory in particular, public key cryptography
would be impossible. Mathematics provides the results on the basis of which the
algorithms operate.
If the cryptographic algorithms are to be realized, then one needs procedures
that enable computation with large integers: The algorithms must not function
only in theory; they must perform to real-world specifications. That is the task of
computer science.
This book distinguishes itself from all other books on the subject in that it
makes clear this relationship between mathematics and computing. I know of no
book on cryptography that presents the mathematical basis so thoroughly while
providing such extensive practical applications, and all of this in an eminently
readable style.